Wednesday, May 22, 2013

PUISI - DOA KU


                  




(Ilham dari pujangga Rabindranath Tagore)

Ya Allah!

Aku tidak memohon kau murahkan rezekiku,

Tapi engkau berilah aku kudrat untuk mencarinya.

Ya Allah!

Aku tidak memohon jauhkan aku dari bencana,

Tapi berilah aku kekuatan hati untuk menghadapinya.

Ya Allah!

Aku tidak memohon kebahagian dan kesejahteraan dirimu,

Tapi kau ujilah aku dengan penderitaan

Supaya dapat aku nikmati kebahagiaan sebenarnya.

Ya Allah!

Aku tidak memohon engkau hindarkan aku dari segala macam nesta dan fitnah,

Tapi kau bersenjatailah aku dengan kesabaran dan ketabahan hati untuk menahannya.

Ya Allah!

Aku tidak memohon engkau memberi kemenangan di pihakku,

Tapi menangilah aku kerana keikhlasan dan kebenaran yang kau redhai.

Ya Allah!

Kalau dalam menghadapi kekerasan

Kurniakanlah aku kelembutan hati untuk mematahkannya,

Kalau dalam menghadapi kelembutan

Kurniakan aku kekerasan hati untuk mencairkannya.

Ya Allah!

Aku tidak menolong kerana minta ditolong,

Aku tidak memberi kerana minta diberi,

Aku tidak menyanyangi kerana mahu disayangi

Aku tidak mencintai kerana mahu dicintai,

Aku hanya melakukan tugasku dan tugasmu.


Ya Allah!

Jauhkan aku dari niat yang buruk,

Simpangkan hatiku dari hasad dan dengki,

Hindarkan perasaanku dari keinginan membalas dendam,

Pupuklah hatiku dengan kasih saying,

Dan mencintai sesame makhluk mu,

Kurniakan aku kewarasan perasaan dan pertimbangan fikiran.

Ya Allah!

Jangan kau gulungkan aku di kalangan alim ulamak,

Tetapi izinkan aku mengulung diri di kalangan mereka yang mungkar;

supaya mereka dapat ku pandu menerusi sinar cahaya mu.

Ya Allah!

Aku tidak memhon engkau mematikan aku dalam keimanan,

Tetapi matikanlah aku menurut kehendakmu dan keredaanmu.

Sesungguhnya hanyalah engkau saja yang mengetahui.

Inilah pinta dalam doaku.

Sumber Rujukan: Dari Petikan Akhbar oleh OSMAN ABADI

Thursday, May 16, 2013

MEMBINA SOLAT YANG MABRUR.


Hadiths


Dari Abu Ayub Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

“Seorang laki-laki menemui Nabi S.A.W. lalu berkata: “Ya Rasulullah. Berilah aku nasihat yang ringkas.”

Maka Rasulullah S.A.W.bersabda:

1. “Kalau Engkau mengerjakan solat, maka solatlah seperti solatnya orang yang hendak meninggalkan dunia.

2. Jangan berbicara dengan satu kalimah yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu.

3. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang ditangan orang lain.”


(Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (1/462) Al Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401))


Penjelasan Hadiths

Alangkah indahnya ketiga wasiat ini. Apabila dijalankan oleh seorang hamba, maka sempurnalah semua urusan dan tentu dia akan berhasil.


Wasiat Pertama, menganjurkan untuk menyempurnakan solat dan berijtihad agar mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Hal itu dengan menghisab diri terhadap semua solat yang dikerjakan serta menyempurnakan semua kewajiban, fardhu ataupun sunnah-sunnah yang ada di dalam solat. Hendaknya juga bersungguh sungguh merealisasikan tingkatan ihsan yang merupakan darjat tertinggi, dengan kehadiran yang betul-betul sempurna di hadapan Robbnya. Yakni bahwa dia sedang berbicara lirih dengan Robbnya melalui apa yang dibacanya, yakni doa ataupun dzikir-dzikir lainnya. Tunduk kepada Robbnya dalam setiap posisi; berdiri, ruku’, sujud, turun maupun naik (dari ruku’ atau sujud serta akan berdiri).

Tujuan yang mulia ini didukung pula dengan kesiapan jiwa tanpa ragu dan rasa malas di hatinya. Bahkan, hatinya senantiasa hadir dalam setiap solat, seakan-akan itu adalah solat orang yang akan berpisah (mau meninggal dunia) atau seolah-olah tidak akan solat lagi sesudah itu (karena wafat).

Sudah dimaklumi bahwa orang yang akan meninggal dunia akan berusaha dengan sunguh-sunguh mencurahkan segenap daya upayanya, bahkan selalu dalam keadaan mengingat pengertian-pengertian dan sebab yang kuat, sehingga mudahlah semua urusannya, lalu itu menjadi kebiasaannya.

Solat dengan cara seperti itu akan mencegah pelakunya dari semua akhlak yang rendah dan mendorongnya berhias dengan akhlak yang menarik, karena hal itu akan memberi pengaruh dalam jiwanya, yaitu bertambahnya iman, cahaya, dan kegembiraan hati, serta kecintaan yang sempurna terhadap kebaikan.


Wasiat Kedua, menganjurkan untuk menjaga lisan dan senantiasa mengawasinya karena menjaga lisanlah kendali semua urusan seseorang. Jika seseorang mampu menguasai lisannya, niscaya dia dapat menguasai seluruh anggota tubuhnya yang lain.

Tetapi jika justru dirinya dikuasai oleh lisannya dan tidak menjaganya dari perkataan yang mengandung mudarat, maka urusannya akan sia-sia, baik agama maupun dunianya.

Maka janganlah berbicara sepatah katapun melainkan harus diketahui apa manfaatnya bagi agama atau dunia. Semua pembicaraan yang di dalamnya ada kemungkinan mendapat kritik atau bantahan, hendaknya ditinggalkan, karena kalau dia berbicara maka dikuasai oleh ucapan tersebut, sehingga ia akan menjadi tawanannya.

Bahkan, sering kali menimbulkan mudarat yang tidak mungkin dihindari.


Wasiat Ketiga, menyiapkan diri bergantung hanya kepada Allah semata dalam semua urusan kehidupan dunia dan akhirat. Tidak meminta kecuali kepada Allah dan tidak bersikap tamak kecuali terhadap kurnia-Nya.

Juga menyiapkan diri untuk berputus asa terhadap apa yang ada di tangan manusia. Demikian itu kerana ‘putus asa’ adalah penjaga. Siapa yang berputus asa dari sesuatu, dia akan merasa tidak memerlukankannya.

Sebagaimana dia tidak meminta dengan lisannya kecuali hanya kepada Allah maka hatinya pun tidak bergantung kecuali kepada Allah.

Oleh sebab itu, tetaplah menjadi seorang hamba sejati bagi Allah, selamat atau bebas dari pengabdian kepada sesama makhluk. Sungguh, dia telah memilih kebebasan dari perbudakan mereka dan dengan itu pula dia telah memperoleh kedudukan yang tinggi dan mulia.

Sesungguhnya bergantung kepada sesama makhluk menimbulkan kehinaan dan jatuhnya harga diri dan kedudukan seseorang sesuai dengan tingkat ketergantungannya kepada mereka.


Wallahu a’lam.


Sumber Petikan dari: peribadirasulullah

Sumber Ruj: Dari Buku Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan

Terjemah dari Kitab Bahjatul Qulubil Abrar Qurratul Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di

 

Sunday, May 12, 2013

APA - KAH KUNCI SYURGA ITU?



Assalamualaikum,wr,wb.

Bismillahirohmaanirrohim

Dengan Nama Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani.

Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.

Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja.

Sebermula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.

Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para
hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.” Pemuda arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata,

“Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.”
Barulah pemuda ini beranjak keluar.Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta, “Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim.” Pendeta itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.

” Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk menunjuk-nunjuk pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tentangan debat tersebut.

Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.”Si pemuda tersenyum dan berkata,


”Silakan!


Sang pendeta pun mulai bertanya,

1. Sebutkan satu yang tiada duanya,

2. Dua yang tiada tiganya,

3. Tiga yang tiada empatnya,

4. Empat yang tiada limanya,

5. Lima yang tiada enamnya,

6. Enam yang tiada tujuhnya,

7. Tujuh yang tiada delapannya,.

8. Delapan yang tiada sembilannya,

9. Sembilan yang tiada sepuluhnya,

10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,

11. Sebelas yang tiada dua belasnya,

12. Dua belas yang tiada tiga belasnya,

13. Tiga belas yang tiada empat belasnya

14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!

15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?

16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?

17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?

18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!

19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?

20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan
batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?

21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!

22. Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua dibawah sinaran matahari?”
Cukup sudah 22 persoalan yang dikemukakan Sang Pendeta.

~~~~~~~~~~~~


Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandungi keyakinan kepada Allah. Setelah membaca Bismillah ia berkata, -

1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.

2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman,“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).”(Al-Isra’: 12).

3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.

5. Lima yang tiada enamnya ialah solat lima waktu.

6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.

7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamusekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatuyang tidak seimbang.” (Al-Mulk: 3).

8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy Ar-Rahman. Allah SWT berfirman, “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat men-junjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).

9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, terbelahnya laut, angin taufan, musim kekurangan makanan, katak, darah, kutu dan belalang.*

10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).

11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Nabi Yusuf.

12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.” (Al-Baqarah: 60).

13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Nabi Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Subuh. Allah SWT ber-firman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (At-Takwir: 18).

15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Nabi Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ” tak ada cercaaan terhadap kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf:98)

17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” (Luqman: 19).

18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Saleh dan kambing Nabi Ibrahim.

19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).

20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Saleh, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).

21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT? “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 28).

22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda muslim tersebut. Kemudian ia mohon kebenaran dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.

Pemuda ini berkata, “Apakah kunci syurga itu?” mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan raut wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhuatirannya, namun hasilnya buntu.

Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia beri jawapan, sementara ia hanya memberi kamu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawapnya!”

Pendeta tersebut berkata, “Sungguh aku mengetahui jawapan dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.” Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan anda.”

Sang pendeta pun berkata,
“Jawapannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.

WASSALAM.

*************************************************************
SUDAHKAH ANDA MENGERJAKAN SOLAT?

INGAT MENGINGATI MENJADI AMALAN KITA.
**************************************************************

Sumber rujukan: Mausu’ah al-Qishash al-Waqi’ah

KUNG FU BUFFALO

SELINGAN BUAT SEKETIKA


ENTERTAINMENT WITH THE KUNG FU BUFFALO FIGHTER




Saturday, May 11, 2013

MAGIC OF MATHEMATICS



1 x 8 + 1 == 9

12 x 8 + 2 == 98

123 x 8 + 3 == 987

1234 x 8 + 4 == 9876

12345 x 8 + 5 == 98765

123456 x 8 + 6 == 987654

1234567 x 8 + 7 == 9876543

12345678 x 8 + 8 == 98765432

123456789 x 8 + 9 == 987654321

Friday, May 10, 2013

CERITA DARI MEKAH ...... ASTAGHFIRULLAH....


Cerita ini telah diperolehi dari email dan saya amat berterima kasih kepada penghantar email ini kerana ceritanya amat sesuai dan patut dikongsi bersama supaya menjadi iktibar dan pengajaran buat kita semua umat ISLAM.

Kisah Nyata...

Tujuh kali naik Haji tidak boleh melihat Ka'bah. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu dari segi kewangan, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala perlengkapan sudah disiapkan.


Lantas ibu dan anak akhirnya berangkat ke tanah suci. Keadaan mereka keduanya sehat wal`afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. "Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah".

Hasan mengepit ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu, lihatlah Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, dia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya.

Diwajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak dapat melihat apapun selain kegelapan. Beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesihatan matanya. Beberapa minit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gelita.

Tujuh kali Haji Anak yang soleh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia solat memohon keampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.


Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugerah-Nya, dengan menatap Ka'bah, kelak. Anak yang soleh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan.

Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan simbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak boleh melihat Ka'bah. Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah. Setiap kali berada di Masjidil Haram, yang nampak di matanya hanyalah gelap dan gelita. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT?.


Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama,yang dapat membantu permasalahannya.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesolehannya dan kebaikannya. Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang soleh ini.

Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari Hasan mau meneleponnya. anak yang berbakti ini pun pulang.

Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelepon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci.

Ulama itu kemudian meminta Sarah berterus terang, mengingat kembali,mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi adanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.


"Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah kecil," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya.

Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat khabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelepon. "Ustadz, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya.

"Oh,bagus.....Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia," potong ulama itu.

 "Tapi saya mencari wang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram," ungkapnya terus terang.

Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.

"Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan wang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka."


Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. "Astagfirullah......" betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusakkannya, sehingga tidak jelas nasabnya.

Apakah Sarah tidak tahu, bahawa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas.

Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkahwinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang- orang yang tidak boleh dinikahi. "Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah. "Cuma itu ?" tanya ulama terperangah. "Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !". ucap ulama dengan nada tinggi.

"Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu lagi sedikit kesal. "Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati."

"Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama.

"Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.

" "Maksudnya ?". Tanya ulama tidak mengerti.


"Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati."

"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang.

Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.

" Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah. "Cuma itu yang kamu lakukan ?".

"Masya Allah....!!! Saya tidak boleh bantu anda. Saya angkat tangan".

Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita,yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.

Akhirnya ulama itu berkata, "Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda." Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar khabar selanjutnya dari Sarah.

Akhirnya ia ingin tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertaubat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya.

Karena tak juga memperoleh khabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri.

Ulama menanyakan kabar Sarah,ternyata kabar duka yang diterima ulama itu. "Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelepon ustadz," ujar Hasan.

Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana ibumu meninggal, Hasan?". tanya ulama itu.

Hasan pun akhirnya bercerita : Setelah menelepon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia.

Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas idzin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat.

Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyedari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayat.

Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kepenatan karena pekerjaan mereka tak juga selesai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan berganjak pulang.

Jenazah itu dibiarkan saja terbaring di hamparan tanah kering kontang. Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan keberatan untuk meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikuburkan. Walaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin.

Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.

Dengan idzin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjurus ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya," Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!". Kata orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok ke belakang, sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman.

Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, tersirat dalam fikirannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan jenazah ibunya. Sedetik kemudian ia menjengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya.

Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan yang ketakutan. Dengan langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.

Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan.

Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan idzin Allah akan hilang.

Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali memberitahu kepada ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang.

Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.


Semoga kisah nyata dari Mesir ini menjadi pelajaran bagi kita semua.


JANGAN BIARKAN DIRI KITA INI MENJADI SEBAHAGIAN DARI KELUCUAN HIDUP.

1. Wang RM50.00 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.

2. Masa 45 minit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu
untuk pertandingan bola sepak.

3. Semua insan ingin memasuki syurga tetapi tidak ramai yang berfikir dan berbicara
tentang bagaimana untuk memasukinya.

4. Kita mengirimkan ribuan 'jokes' dan 'suratberantai' melalui e-mail tetapi
bila ! mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali berfikir 2 atau 3 kali.

5. Kita jadikan diri kita Kuda Tunggangan melakukan kejahatan sesama ISLAM. Bagaimana jika kita lakukan Kebaikan sesama ISLAM dengan tidak menganiayai sesama Islam.

6. Sesungguhnya ALLAH Maha Kuasa dan Maha Mengetahui  dan tiap-tiap amalan walaupun sebesar zarah akan di balas. Baik dibalas baik. Jahat di balas jahat.

7. Insya'Allah segala bakti dan amal kita akan di berkati dan di terima oleh ALLAH SWT. 



WASSALAAMU`ALAIKUM